JAKARTA — Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan bahwa generasi muda harus mengambil peran strategis dalam menentukan arah dan masa depan Indonesia. Pemuda, menurut Erick, tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus tampil sebagai bagian penting dalam pembangunan bangsa.

Pesan tersebut disampaikan Erick Thohir saat memberikan sambutan dalam acara Pelantikan dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Gerakan Muda Untuk Rakyat (GEMURA) di Hotel Grand Sahid Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Erick mengapresiasi pelantikan pengurus dan pelaksanaan Rakernas GEMURA sebagai momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi kepemudaan. Ia berharap GEMURA mampu menjadi ruang bagi berbagai elemen pemuda untuk bersatu, menyusun gagasan, sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Erick mengingatkan kembali sejarah perjuangan pemuda Indonesia yang telah melahirkan semangat persatuan melalui Sumpah Pemuda 1928.

“Senior kalian yang membuat platform negara ini. Pada 1928, mereka menyatukan kita. Kita harus meneruskannya,” ujar Erick.

Menurutnya, semangat persatuan tersebut semakin relevan di tengah situasi global yang masih diwarnai konflik dan perpecahan. Indonesia, kata Erick, memiliki kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa keberagaman tidak harus menjadi sumber konflik.

Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk terus menjaga persatuan, memperkuat kebersamaan, serta menjadikan perbedaan sebagai kekuatan dalam membangun Indonesia.

Erick juga meminta pemuda melihat berbagai persoalan bangsa secara lebih mendalam. Ia mengibaratkan persoalan kepemudaan seperti gunung es, di mana persoalan yang terlihat di permukaan sebenarnya hanya sebagian kecil dari masalah yang lebih besar.

“Kalau kita lihat gunung kecil, jangan hanya melihat yang di atas. Di bawahnya ada gejolak yang lebih besar. Apa yang kita lihat hari ini hanya permukaan saja, tetapi problemnya tidak pernah diberikan solusi,” katanya.

Menurut Erick, kondisi tersebut membutuhkan kebijakan kepemudaan yang tidak sekadar meniru program dari negara lain. Setiap kebijakan harus mempertimbangkan karakter, kondisi sosial, budaya, serta kebutuhan masyarakat Indonesia.

“Benchmark dari negara lain tidak selalu sesuai dengan konteks kita. Harus diperbaiki dan disesuaikan dengan Indonesia,” ujarnya.

Erick menegaskan bahwa pembangunan pemuda merupakan kepentingan bersama. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri karena generasi muda saat ini merupakan kelompok yang nantinya akan menentukan arah bangsa.

“Saya peduli dengan pemuda. Anak-anak saya juga berada pada usia kalian, 22 sampai 26 tahun. Artinya, masa depan anak-anak saya dan semuanya ada di tangan generasi muda,” kata Erick.

Ia pun mendorong GEMURA agar tidak berhenti pada kegiatan pelantikan dan Rakernas, tetapi mampu menerjemahkan semangat organisasi ke dalam program yang konkret dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Erick berharap organisasi kepemudaan dapat menjadi motor penggerak optimisme sekaligus ikut mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Jangan membangun pesimisme. Kita harus membangun bangsa ini dengan baik,” tegasnya.

Pelantikan dan Rakernas GEMURA di Hotel Grand Sahid Jakarta tersebut dihadiri jajaran pengurus, kader organisasi, serta sejumlah tokoh dan undangan. Kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penyusunan agenda kerja untuk memperkuat kontribusi pemuda dalam kehidupan sosial dan pembangunan nasional.

Melalui momentum tersebut, GEMURA diharapkan mampu memperkuat peran pemuda sebagai generasi penerus sekaligus penggerak perubahan yang ikut menentukan masa depan Indonesia.

 

By Admin99

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *