Oleh: Ustadz Dano JS (Jouguru), Pimpinan MT. Basyaairul Khaeraat
WARTAHUB.COM, Papua–Maluku — Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan zaman, jejak dakwah Islam di kawasan timur Nusantara perlahan mulai tenggelam dari ingatan generasi. Padahal, jauh sebelum gema kemerdekaan terdengar di negeri ini, suara adzan telah berkumandang di pesisir Papua dan Maluku melalui perjuangan para wali, ulama, dan mubalig yang menjadikan laut sebagai jalan dakwah serta pulau-pulau terpencil sebagai pusat penyebaran tauhid.
Melalui gerakan spiritual dan dokumentasi sejarah bertajuk “Jejak Wali di Batas Timur: Ketika Laut Menjadi Mimbar dan Darah Menjadi Tinta”, napak tilas dakwah Islam di wilayah Papua hingga Maluku kembali dihidupkan sebagai upaya menyambung sanad perjuangan para pendahulu yang nyaris terlupakan.
Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah misi ruhani dan sejarah untuk menggali kembali jejak para penyebar Islam yang datang melalui jalur laut, menetap di pulau-pulau terpencil, hidup bersama masyarakat adat, dan menyebarkan Islam melalui keteladanan akhlak serta hubungan kemanusiaan.
Dalam semangat itu, perjalanan dakwah dan penelusuran sejarah dilakukan menuju sejumlah wilayah penting di kawasan timur Indonesia seperti Pulau Kesuy, Pulau Gorom, Pulau Geser, dan Pulau Seram di Provinsi Maluku. Seluruh perjalanan akan dilengkapi dengan dokumentasi foto, wawancara lisan masyarakat setempat, hingga pencatatan manuskrip lapangan sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah Islam Nusantara.
“Ini bukan wisata sejarah. Ini adalah perjalanan ruhani untuk membaca kembali jejak dakwah para wali yang menjadikan samudra sebagai mimbar dan kesunyian pulau sebagai tempat menyebarkan cahaya Islam,” demikian disampaikan dalam catatan dakwah yang menjadi landasan kegiatan tersebut.
Perjalanan napak tilas ini berangkat dari keyakinan bahwa sejarah Islam di kawasan timur Nusantara dibangun dengan pengorbanan besar. Para pendakwah terdahulu menyampaikan risalah Islam tanpa kekerasan, melainkan dengan hikmah, kesabaran, dan keikhlasan.
Dari penelusuran makam-makam tua hingga cerita turun-temurun masyarakat pesisir, ditemukan tiga nilai utama yang menjadi fondasi dakwah Islam di wilayah timur Indonesia.
Pertama adalah hikmah, yaitu dakwah yang merangkul budaya dan adat masyarakat setempat tanpa paksaan. Islam hadir melalui pendekatan kemanusiaan, perdagangan, perkawinan, dan akhlak yang lembut.
Kedua adalah shabr atau kesabaran. Para mubalig rela hidup bertahun-tahun di pulau terpencil dengan keterbatasan fasilitas demi menyebarkan ajaran tauhid kepada masyarakat.
Ketiga adalah ikhlas. Banyak dari mereka wafat tanpa dikenal sejarah besar, namun nama dan perjuangannya tetap hidup dalam doa masyarakat dan keturunannya hingga hari ini.
“Dakwah di wilayah timur Nusantara mengajarkan bahwa Islam tumbuh melalui keteladanan, bukan dominasi. Laut menjadi saksi bagaimana para pendahulu membawa Al-Qur’an di dada dan harapan di atas perahu sederhana,” tulis catatan tersebut.
Jejak sejarah ini diyakini memiliki keterhubungan erat dengan jalur perdagangan Muslim dari Gujarat, Arab, hingga wilayah Gresik di Jawa yang sejak berabad-abad lalu telah singgah di pesisir Papua dan Maluku. Dari titik-titik itulah Islam berkembang melalui pesantren pesisir dan hubungan sosial masyarakat maritim.
Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dakwah, dokumentasi perjalanan ini juga memiliki tiga tujuan utama.
Pertama, tujuan ilmiah, yakni menyelamatkan sejarah Islam Papua–Maluku agar tidak hilang ditelan zaman maupun pengaburan sejarah.
Kedua, tujuan pendidikan atau tarbawiyah, yaitu menjadikan kisah perjuangan para ulama sebagai materi pembelajaran generasi muda agar memahami bahwa Islam hadir di Nusantara melalui perjuangan panjang dan pengorbanan besar.
Ketiga, tujuan dakwah, yaitu menghidupkan kembali semangat dakwah pesisir yang santun, membangun, dan membumi di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan ini, masyarakat juga diajak menjadi bagian dari mata rantai perjuangan dakwah dengan mendukung proses dokumentasi dan penelusuran sejarah yang sedang dilakukan.
“Setiap doa adalah angin bagi layar perjuangan ini. Setiap dukungan menjadi bahan bakar agar jejak para wali di batas timur Nusantara tetap hidup dan tidak hilang dari ingatan umat,” demikian pesan yang disampaikan dalam seruan perjalanan tersebut.
Napak tilas ini diharapkan mampu membuka kembali kesadaran umat bahwa sejarah Islam Indonesia tidak hanya tumbuh di pusat-pusat kerajaan besar di Jawa dan Sumatera, tetapi juga berkembang kuat di wilayah timur Nusantara melalui pengorbanan para pendakwah yang menembus lautan demi menyampaikan satu ayat kebenaran.
Dengan semangat itu, perjalanan dakwah dan dokumentasi sejarah Islam Papua–Maluku akan terus dilanjutkan sebagai bagian dari upaya menjaga warisan peradaban Islam Nusantara agar tetap hidup dalam nadi generasi mendatang.
Wallahu yahdi ila sawaa’is sabil.
